Devine

Tidak ada anak yang bisa memilih dari keluarga mana ia akan dilahirkan. Ada yang akhirnya lahir di keluarga dengan kebanyakan uang, ada yang dibesarkan di pelosok dan ada yang di perkotaan, ada yang dibesarkan dengan ajaran islam, ada yang dibesarkan dengan cara nasrani.

Tidak ada sesuatu yang terjadi karena kebetulan. Kebetulan Tuhan dalam konteks mu, Tuhan sayang sama kamu karena dilahirkan di keluarga mu, kamu diselamatkan. Kebetulan Tuhan dalam konteks ku, Tuhan sayang sama aku karena dilahirkan di keluarga ku, aku disempurnakan. Kebetulan?

Advertisements

Go Along

Aku tau, mencintaimu salah, membuat begitu banyak orang marah. Aku juga tak membantah, siapapun bahkan kamu pun mungkin berkata, betapa tak akan ada bahagia yang bisa kudapat darimu, dulu, kini, dan sampai entah.

Bertemu denganmu, sudah takdirku. Dekat denganmu, adalah pilihanku.

Aku mencintaimu, bukan demi kebahagiaan dan kemudahan hidup, seperti yang mereka pikirkan.

Dan kalian,,

 Jangan lagi ingatkan aku, bahwa mencintainya sebuah kesalahan. Aku sudah tau.

Dan kamu,,

Jangan lagi tanyakan aku, apakah seluruhku akan kuberikan. Aku pasti mau, karena aku mencintaimu, dengan segala yang aku punya, yang belum ada, dan yang tak mungkin ada pada ku.

Maafkan aku, tapi ini takdir yang harus kutuntaskan. Karenanya, terimalah, dan cinta ini akan membuat kita sampai ke puncak gunung tertinggi.

Hanya ada 2 pilihan, selain tetap mendaki, atau beristirahat sejenak membuka tenda. Atau kita akan jadi korban, kemungkinan hipotermia, atau kekurangan oksigen yang semakin menipis.

Dek,

Aku tak akan pernah takabur bisa sampai ke puncak, tapi biarkan kita melangkah meski ada kemungkinan tersesat.

Mari ikut bersamaku ke negeri nirwana, menuliskan ketinggian ribuan meter diatas permukaan nalar, meneguk secangkir kehangatan cerita perjalanan, sambil menunggu terbitnya fajar indah yang akan datang kemudian, hingga kita kembali pulang.

Mau kan?

HIMALAYA, Kita Akan Kesana

Kamu selalu bilang aku tak pernah paham, bahwa tak akan pernah ada puncak indah bernama cartenz.

Selalu ada alasan kenapa para pendaki gunung tetap melangkahkan kakinya walau mereka tau dan sadar jika mendaki selalu akan melelahkan.

Para pendaki pun tak akan perduli seberapa berat carrier yang membebani punggung mereka. mereka tak akan peduli seberapa tajam kerikil dalam sepatu merobek kulit mereka, seberapa dingin udaranya menusuk tulang sumsum mereka.

Sebagian dari mereka percaya akan sebuah pemandangan indah di atas sana, malah sebagian lagi tak pernah muluk menggapainya. Lebih memilih untuk sekedar menikmati perjalanannya.

Sebuah perjalanan yang pastinya melelahkan, tapi entah kenapa mereka tetap melangkah.
Memang lelah, tapi tetap melangkah, memikul beban, membangun tenda, mencari air, membuat perapian.

Hal yang membuat kita lelah, tetapi kenapa kita tetap pergi? Tidak berdiam dirumah, tidur di kasur yang empuk, menonton tv, dan hal-hal lain yang tak melelahkan.

Pasti ada sebuah alasan.
Ayo dek, kemasi barang-barang mu, ikat kencang tali sepatu mu. Ada sebuah puncak indah bernama cartenz diatas sana.

Puncak yang tak pernah memberikan kita sebuah Harapan. Puncak yang akan mencoba menakuti kita dengan tipisnya oksigen. Puncak yang akan selalu mengancam kita dengan dinginya badai bersalju. Puncak yang akan berusaha mengkerdilkan kita dengan terjalnya pendakian.

Karena sebenarnya kita lah yang memiliki Keinginan dan Harapan untuk sampai di sana berjumpa dengannya.

Ok. Kamu mau bersandar di sofa merah itu atau ikut aku ke himalaya?

Kitaberangkat.

1 Syawal 1435H

momen yang sama terulang setiap tahun, namun beberapa berubah.
sebagian manusia hilang, beberapa manusia baru muncul.

yap, tanpa ayah, kakak adik tepisah karena sudah berkeluarga masing-masing,
saya pun punya pekerjaan sebagai wartawan yang tak kenal cuti lebaran, tanpa pacar.

yang lainnya muncul, teman baru, lingkungan baru, kesibukan baru.
ini lah hidup, hanya de javu. terasa semua ada namun realita hidup dan mati, datang dan pergi silih berganti.

mohon maaf lahir batin, maafkan semua kesalahan saya.

taqaballahu minna wa minkum!

image

Previous Older Entries