HIMALAYA, Kita Akan Kesana

Kamu selalu bilang aku tak pernah paham, bahwa tak akan pernah ada puncak indah bernama cartenz.

Selalu ada alasan kenapa para pendaki gunung tetap melangkahkan kakinya walau mereka tau dan sadar jika mendaki selalu akan melelahkan.

Para pendaki pun tak akan perduli seberapa berat carrier yang membebani punggung mereka. mereka tak akan peduli seberapa tajam kerikil dalam sepatu merobek kulit mereka, seberapa dingin udaranya menusuk tulang sumsum mereka.

Sebagian dari mereka percaya akan sebuah pemandangan indah di atas sana, malah sebagian lagi tak pernah muluk menggapainya. Lebih memilih untuk sekedar menikmati perjalanannya.

Sebuah perjalanan yang pastinya melelahkan, tapi entah kenapa mereka tetap melangkah.
Memang lelah, tapi tetap melangkah, memikul beban, membangun tenda, mencari air, membuat perapian.

Hal yang membuat kita lelah, tetapi kenapa kita tetap pergi? Tidak berdiam dirumah, tidur di kasur yang empuk, menonton tv, dan hal-hal lain yang tak melelahkan.

Pasti ada sebuah alasan.
Ayo dek, kemasi barang-barang mu, ikat kencang tali sepatu mu. Ada sebuah puncak indah bernama cartenz diatas sana.

Puncak yang tak pernah memberikan kita sebuah Harapan. Puncak yang akan mencoba menakuti kita dengan tipisnya oksigen. Puncak yang akan selalu mengancam kita dengan dinginya badai bersalju. Puncak yang akan berusaha mengkerdilkan kita dengan terjalnya pendakian.

Karena sebenarnya kita lah yang memiliki Keinginan dan Harapan untuk sampai di sana berjumpa dengannya.

Ok. Kamu mau bersandar di sofa merah itu atau ikut aku ke himalaya?

Kitaberangkat.

Advertisements

Comments are closed.

%d bloggers like this: