Cengir

Dear, meryl dwi s.

Sayang, aku dulu mendapatkan mu dengan kelembutan. Aku membuat kamu mu tersenyum, tertawa dengan tingkah konyol ku.
Aku punya bantal “cengir”. Yaa itu hadiah dari mu. Kamu sebut aku “cengir”. Karena aku ceria senyum lebar dengan gigi besar tidak rata, itu yg membuat diri mu tertawa.
Aku malu sama bantalnya. Aku sekarang si kasar. Aku sering mengumpat mu, menghina mu, membentak mu. Aku laki-laki kasar. Bukan lagi si cengir. Aku ga cocok lagi pake bantal ini.
Aku mau pulangin bantalnya ke kamu. Aku malu sama bantalnya. Aku bukan si cengir lagi. Aku kasar. Aku kasar. Ini bukan bantal ku. Aku laki-laki kasar mu. Ini bantal untuk laki-laki ceria mu. Bukan untuk aku.

Pacar mu,

Dipo si CENGIR kasar

Advertisements

Comments are closed.

%d bloggers like this: