Sepi

Aku tak pernah suka tempat ini.
Tak betah hidup sendiri, tanpa sedikit pun bersosialisasi.
Bagaikan neraka, jauh dari gemerlap kilau ibukota.

Aku suka kebisingan itu,
deru motor disana-sini,
adu mulut para tetangga yang penuh dengki,
bisik-bisik gosip para babu disore hari,
dan gelak tawa serta nyayian khas para pemuda mabuk dimalam hari.

Itu dulu, sebelum aku merasakan nikmatnya menyepi.

Sekarang bagiku sepi itu luar biasa.
Hanya didalam sepi, aku memacari Anjelina Jolie tanpa harus dikejar paparazi.
Hanya didalam sepi, aku bernyanyi lagu Now and Forever tanpa ada orang yang teriak mencaci.
Hanya didalam sepi, aku menapaki jalanan berbatu di Montmarte hingga La Tour Eiffel.
Bahkan, didalam sepi aku  menyaksikan sunset jingga dari tepian pantai Kepulauan Karibia.

Karna hanya didalam sepi aku bisa memimpikan itu semua.
Dari dalam kamar sempit dibawah langit kota Jogja.

Advertisements

criticize me, dude!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: